Wednesday, April 29, 2009

Teeth for Health

Gigi untuk kesehatan. Bagaimana kaitan gigi dengan kesehatan ya? Sebagai orang yang awan di bidang kesehatan, aku cuma berpikir kalo misalnya orang mengunyah makanan, tapi giginya nggak sehat, maka makanan yang masuk ke tubuh juga tidak dicerna secara sempurna. Kalo makanan yang masuk nggak tercerna sempurna, maka sari pati makanan untuk tubuh pun buruk. Kalo sari pati yang terserap buruk, maka tubuh tidak bisa melakukan metabolisme dengan optimal, akibatnya daya tahan tubuh menurun, kualitas kesehatan jadi nggak bagus. Benarkah pemikiranku ini?

Ya, kesadaran untuk merawat gigi berbanding lurus dengan kesadaranku merawat kesehatan seluruh tubuhku. Semoga yang aku lakukan ini bisa menjadi bagian dari ibadah merawat karunia-Nya. Aamiin...

Orthodonti, behel, kawat gigi, semoga menemani aku dalam perawatan kesehatanku ini.

Tuesday, April 28, 2009

Kontrol Kawat Gigi - Orthodontic Visit (27 April 2009)

Senin malam, 27 April 2009, saatnya kontrol ortho. Kali ini aku menjadi pasien kedua (pasien pertamanya Fathin, keponakanku). Seru juga kontrol bareng lagi.


Gigi atas kali ini "diistirahatkan", sembari menunggu ruang untuk bertemunya gigi atas dan gigi bawah. Kawat gigi tidak diaktifkan, tapi semua gigi diikat oleh kawat kecil. Kata drg Andi Sp.Ort, hal ini dilakukan supaya posisi gigi atas stabil.

Kali ini, archwire yang bawah diganti. Konsentrasi pergeseran gigi di gigi geraham kecil (2nd premolar) bawah. Gigi premolar kanan ditarik dengan power chains, gigi premolar kiri didorong dengan open coil.

Monday, April 27, 2009

Behel dan Sumpit

Malas menggigit karena selilitan? Itu pasti terjadi pada pemakai behel atau kawat gigi. Jadi biasanya, pemakai behel memotong-motong makanannya menjadi kecil-kecil, baru setelah itu mengkonsumsi makanan tersebut. Aku pun memiliki kebiasaan memotong-motong makananku. Sendok dan garpu menjadi teman akrab ketika makan. Selain itu, aku juga suka makan menggunakan sumpit.

Saturday, April 25, 2009

Masih Rajin Menulis Blog Kawat Gigi?

"Masih rajin menulis blog kawat gigi?". Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh teman-teman yang tau kalo aku memiliki blog http://ummul-orthodonti.blogspot.com
Jawabanku: "masih".

Tadi malam aku melihat tayangan Kick Andy di Metro-TV, tentang dunia kesehatan yang dibalut oleh kisah inspiratif dari narasumbernya. Ada kisah inspiratif dari Pepeng dan istrinya, yang menyebutkan bahwa menulis adalah bagian dari terapi. Aku baru menyadari hal ini.

Sebenarnya, perawatan gigi yang aku jalani jauh berbeda dengan semua sakit yang dialami Pepeng. Karena sejatinya aku sehat. (Ya, perawatan orthodonti mensyaratkan pasien harus memiliki kesehatan tubuh dan kesehatan mulut yang baik). Tetapi aku merasakan, dengan menulis, masa-masa yang (kadang, bahkan sering) tidak menyenangkan dan tidak nyaman ini, bisa aku lalui dengan lebih ringan. Aku bisa menuliskan apa yang aku rasakan. Saat gigiku ngilu, aku tuliskan ketidaknyamanan ini. Saat sariawan, seluruh dunia bisa tau. Atau justru saat-saat yang menyenangkan, saat ada perubahan kecil di rongga mulutku pun aku tulis. Gigiku bergeser 0,5 milimeter pun aku kabarkan pada semua.

Masih tentang berbagi, dan kali ini adalah berbagi pengalaman. Pengalaman yang pernah aku jalani selama pemakaian behel atau kawat gigi, aku tulis dan aku post di blog ini. Aku merasa, menulis adalah hal yang mengasyikkan dan menyenangkan. Apakah karena menulis menyenangkan, maka bisa jadi bagian dari terapi ya? Adakah yang visitor blog ini yang memiliki perasaan yang mirip dengan yang aku alami, perasaan senang menulis dan berbagi?

Berikut ini adalah foto gigiku yang menunjukkan kondisi terakhir. Tapi sayang, di foto ini pergerakan gigi gerahamnya nggak bisa terlihat.

Friday, April 24, 2009

Orthodonti-Blogger dan Arsitektur

Aku tidak tebuai oleh keasyikan menyusuri seluk beluk kawat gigi. Aku senang mendapatkan sesuatu yang baru aku ketahui, dan ini tidak menghanyutkanku. Aku tetap berprofesi di bidang arsitektur. Bagiku, menjadi orthodonti-blogger adalah sebagian dari aktivitas harianku selain mejalankan profesiku. Aku hanya ingin berbagi informasi, atau tepatnya berbagi pengalaman selama aku menjalani perawatan gigi (selama aku menggunakan behel atau kawat gigi cekat). Berbagi cerita merupakan kenikmatan tersendiri bagiku. Aku bisa merasakannya.


Membahas tentang berbagi, juga pasti nggak lepas dari berbagi senyum. Alangkah indahnya bila bisa berbagi senyum setiap hari. Keep smiling!

:-)

Monday, April 20, 2009

Drg Chaerita Maulani, Penulis Buku Seluk Beluk Kawat Gigi

Membaca buku yang ditulis oleh drg Chaerita Maulani, Buku Seluk Beluk Kawat Gigi, aku mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai orthodonti. Dengan penggunaan bahasa yang populer dalam menyampaikan informasi, tapi tetap memberikan penjelasan teknis dan istilah kedokteran gigi, membuat buku ini mudah dipahami oleh pembaca awam. Pertanyaan-pertanyaan yang paling sering bermunculan seputar behel atau kawat gigi (seperti biaya, waktu perawatan, tips seputar perawatan dan sebagainya), dijelaskan secara gamblang dan sistematis. Aku merekomdasikan Buku Seluk Beluk Kawat Gigi ini untuk dibaca oleh orang-orang yang akan dan sedang menjalani perawatan orthodonti.

Secara spontan, aku mencoba menghubungi drg Chaerita Maulani via e-mail. Ternyata drg Chaerita Maulani menanggapi secara positif. Hal ini merupakan kehormatan bagiku bisa berkomunikasi dengan beliau. Semoga apa yang telah ditulis beliau bisa bermanfaat bagi banyak orang. Sukses selalu untuk drg Chaerita Maulani.




:-)

Sunday, April 19, 2009

Buku Seluk Beluk Kawat Gigi

Sabtu siang 18 April 2009, setelah menemani mahasiswa membuat sketsa di city walk Jalan Slamet Riyadi Solo, aku mampir toko buku Gramedia. Ternyata Buku Seluk Beluk Kawat Gigi udah ada. Aku langsung beli. Sore harinya, aku baru sempat membacanya. Sekilas, buku ini oke juga untuk tambahan informasi dan pengetahuan tentang behel atau kawat gigi.


:-)