Sunday, December 14, 2008

Senyum “Kinclong” Kawat Gigi (“Blink-blink” Braces Smile)

Aku berusaha untuk selalu tersenyum, walaupun kalo harus jujur, tidak semua proses perawatan gigi terasa menyenangkan. Bila dihitung-hitung, malah mungkin lebih banyak ketidaknyamanan yang ditemui dari pada hal-hal yang mengenakkan selama perawatan gigi. Cuma aku akan lebih ringan menjalaninya bila aku tersenyum.

I try to keep smiling. But I must to tell you the truth about orthodontic treatment. It isn’t a full “nice” journey. There are a lot of inconvenient things came to me. But, I feel OK if I try to always smile.

2 comments:

astar hadi said...

hehehe... ternyata anda pake kawat gigi juga?! knp ayo???
saya balik bertanya, ada apa di balik kawat gigi yang anda pakai? ada sesuatu yang lain kah, yang tidak sekedar membuat anda bisa tersenyum? apakah anda memperolehnya secara gratis? ato paling tidak, apakah harganya termasuk "murah" spt harga permen? anda yang tau...hehehehe

ummul said...

Kenapa memakai kawat gigi? Karena pertimbangan kinerja gigiku nggak optimal. Memakai kawat gigi aku lakukan sebagai pilihan yang tanpa paksaan. Tidak perlu menyalahkan "gen" nenek moyang yang mencetak gigi menjadi tidak "compatible" dengan ukuran rahangku.

Mengenai senyum, bagiku tidak perlu memakai kawat gigi untuk sekedar bisa tersenyum. Senyum bukan hanya di mulut. Bagiku senyum adalah indah apabila timbul dari dalam hati yang tulus.

Kawat gigi gratis?! Hari gini nggak ada yang gratis lah. "Jer basuki mawa bea", pasti ada harga yang "murah" untuk investasi kesehatan dan kinerja gigi di masa depan. Tidak semurah permen ya. Ha ha ha.

Cuma itu yang bisa aku jawab, Bung Astar Hadi!

Salam, dan senyum!

:-)